Sekjen AMAN Terpilih Ajak Masyarakat Adat Rebut Ruang Politik

Sekjen AMAN Terpilih Ajak Masyarakat Adat Rebut Ruang Politik

Oleh Apriadi Gunawan

Seruan untuk menentukan nasib sendiri terus dikumandangkan oleh Rukka Sombolinggi usai ditetapkan kembali sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) AMAN periode 2022-2027. Itu menjadi periode kedua bagi Rukka mengemban amanah sebagai Sekjen AMAN. Perempuan asal Madandan, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan tersebut, mengajak Masyarakat Adat Nusantara untuk merebut ruang politik di negeri ini supaya bisa menentukan nasib sendiri.

“Nasib kita adalah keputusan kita,” tegasnya dengan nada lantang dalam pidato sebagai Sekjen AMAN terpilih pada penutupan Kongres Masyarakat Adat Nusantara Keenam (KMAN VI) di Stadion Barnabas Youwe, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua pada Minggu malam (30/10/2022).

Rukka menyatakan bahwa KMAN VI telah memandatkan bahwa negara ini punya kita. Maka, kita harus hadir di ruang-ruang, di mana keputusan yang menyangkut hidup kita dibuat. Ia menegaskan kalau Masyarakat Adat harus merebut ruang politik supaya praktik terkait keputusan atas hidup kita yang selama ini ditentukan oleh orang lain, harus dihentikan. Karena itu, lanjut Rukka, kita harus merebut kedudukan, mulai dari kepala desa hingga presiden.

“Mau?” tanya Rukka kepada seluruh peserta KMAN VI sembari menyatakan bahwa tekad tersebut akan mereka pegang malam ini.

Menurutnya, tidak akan mungkin kita menentukan nasib sendiri kalau tidak mengambil keputusan di ruang-ruang politik. Kita harus bertekad bulat untuk memastikan bahwa pemimpin kita hadir di ruang pengambilan keputusan, khususnya di level kabupaten dan provinsi, karena itu adalah ruang yang ada di dekat kita.

“(Tahun) 2024 di depan mata. Kalau tidak serius bergerak, kalau kita tidak bersiap, maka keputusan akan nasib kita, akan ditentukan oleh orang lain,” tandasnya.

Rukka yakin AMAN bisa menentukan nasibnya sendiri. Ia mencontohkan saat Masyarakat Adat menghadiri KMAN VI di Papua dengan biaya mandiri.

“Ada yang luar biasa di KMAN VI ini. Semua di awal itu, suasana batin menjelang KMAN VI, (merasa) pasti kita tidak bisa (berangkat) ke Papua (karena biaya yang) mahal sekali. Banyak yang ragu (kita bisa berangkat), tapi ternyata kita bisa. Kita menunjukkan bahwa kitorang (kita) bisa,” katanya.

Rukka menyebut kalau biaya transportasi ke Papua, sebagian peserta membayar sendiri secara mandiri, sedangkan sebagian yang tidak mampu karena banyak masalah, disubsidi oleh AMAN.

“Ini yang membuat saya sungguh terharu,” ujarnya.

Selain seruan untuk menentukan nasib sendiri, Rukka juga terus mengumandangkan desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat. Ia menegaskan bahwa Masyarakat Adat harus terus mendesak pemerintah dan tidak berhenti berjuang agar RUU Masyarakat Adat segera disahkan sesuai dengan aspirasi dan harapanan kita.

“Kita terus pekikkan pengesahan RUU Masyarakat Adat ini dan tunjukkan bahwa kita ada dan kita akan menjadi jalan keluar dari krisis bangsa ini. Untuk itu, hak-hak kita harus dilindungi dan diakui sepenuhnya,” ujarnya.

Rukka menyatakan, selain pengesahan RUU Masyarakat Adat, pemetaan wilayah adat juga mendesak untuk dituntaskan. Ia menyebut perkiraan terdapat minimal 40 juta hektar wilayah adat yang terpetakan, namun baru setengahnya yang terpenuhi. Rukka mengatakan, kita harus bertekad bulat paling lambat tiga tahun ke depan paling cepat kita sudah punya peta wilayah adat seluruhnya.

“Sanggup?” tanya Rukka. Pertanyaan itu langsung dijawab sanggup oleh ribuan peserta KMAN VI.

Menurutnya, kita harus memetakan wilayah adat karena banyak wilayah adat yang sudah rusak akibat perbuatan perusahaan. Wilayah adat yang rusak juga harus menjadi tangung jawab untuk kita pulihkan kembali.

“Wilayah adat yang sudah rusak harus kita pulihkan. Kita harus pastikan bumi ini harus menjadi rumah yang baik untuk kita huni. Kita Masyarakat Adat disebut sebagai penjaga bumi. Kita harus terus melakukan itu,” ujarnya.

Ketua Panitia Pengarah KMAN VI Abdon Nababan yang  baru saja mengakhiri masa jabatan sebagai Ketua Dewan AMAN Nasional (DAMANNAS), mengutarakan keyakinannya bahwa AMAN yang kini punya 20 juta anggota Masyarakat Adat, bisa melakukan perubahan. Keyakinan itu disampaikan Abdon saat menyampaikan pidato penutupan KMAN VI.

“Kita bisa melakukan perubahan. Kita ada di kantor pemerintahan, parlemen, bisnis, pengacara. Kalau kita organisasikan dengan baik, kita bisa mempercepat pencapaian cita-cita Masyarakat Adat di bawah kepengurusan besar saat ini,” kata pria yang sudah mengabdi di AMAN sejak awal, 10 tahun di antaranya sebagai Sekjen AMAN.

KMAN VI ditutup oleh Ketua Umum Panitia Mathius Awoitauw yang sekaligus tengah menjabat sebagai Bupati Jayapura. Penutupan KMAN VI berlangsung meriah di Stadion Barnabas Youwe pada Minggu malam (30/10/2022) dengan berbagai pertunjukkan, termasuk tarian kolosal dari berbagai daerah di Nusantara yang dibawakan oleh gabungan ratusan pelajar di Kabupaten Jayapura.

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw menyatakan bahwa lembaga agama punya andil besar dalam mendoakan dan menyukseskan KMAN VI. Ia juga menyebut peran vital ondofolo (pimpinan kampung) serta seluruh paguyuban di Papua yang telah mendukung KMAN VI. Dikatakannya, penyelenggaraan KMAN VI melibatkan banyak masyarakat untuk mendukung, tapi gereja dan masjid menjadi kekuatan untuk mengerahkan seluruh masyarakat ikut terlibat dalam KMAN VI.

“Karena kita sudah canangkan kawasan ini sebagai zona integritas kerukunan,” katanya sembari mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan menyukseskan kegiatan KMAN VI.

***


Leave a Reply

Your email address will not be published.