Motor Jadi Kendaraan untuk Berjualan Noken Menuju Stadion Barnabas Youwe & Khalkote

Motor Jadi Kendaraan untuk Berjualan Noken Menuju Stadion Barnabas Youwe & Khalkote

Oleh Anagreth Rosalia Eluay

Yohana Douw, salah satu mama (perempuan adat) asal Suku Mee, menggunakan motor dengan jarak tempuh yang jauh dari Kota Jayapura menuju Sentani di Kabupaten Jayapura dengan membawa noken-noken hasil karya tangan sendiri. Meski begitu, ia sangat bersemangat untuk berjualan demi mendukung dan meramaikan kegiatan Kongres Masyarakat Adat Nusantara Keenam (KMAN VI).

Yohana Douw baru saja mulai berjualan sejak kemarin. Beliau berkata bahwa keuntungan kotor dari penjualan kemarin berjumlah Rp300.000, sedangkan modal untuk itu sebesar Rp100.000, sehingga keuntungan bersih yang didapatnya adalah Rp200.000.

“Itu hasil yang saya dapat kemarin saya jualan di stadion ini,” ucap Mama Yohana.

Namun, berbeda lagi saat Yohana berjualan di Festival Danau Sentani (FDS).

Ia bilang, “Di FDS, saya berjualan, tapi sepi jualan saya. Saya tidak mendapat hasil sama sekali.”

Mama Yohana Douw asal Suku Mee, Kabupaten Paniai, Papua.
Sumber foto: Dokumentasi AMAN.
Hasil karya noken dan berbagai sovenir buatan Mama Yohana Douw.
Sumber foto: Dokumentasi AMAN.

Noken-noken dijual dengan beragam ukuran dan harga. Ada yang besar sampai kecil dengan harga yang pula berbeda-beda, mulai dari Rp100.000 hingga Rp1.000.000. Bukan hanya noken yang ia jual, tapi juga gantungan kunci dan gelang yang juga buatan  tangannya. Yohana berharap hasil jualannya itu bisa laku dibeli oleh peserta KMAN VI.

“Kalau saya tidak jualan, saya tidak bisa beli sayur, bahkan uang jajan buat anak saya tidak ada. Makanya, saya harus jualan biar hasilnya sedikit, saya bisa bawa pulang (uang) untuk anak-anak saya,” ucapnya.

Yohana Douw juga sangat mendukung penyelenggaraan KMAN VI dan beliau berharap bahwa KMAN VI dapat berjalan dengan baik dan aman. Menurutnya, dengan adanya KMAN VI, memberikan peluang baginya dan mama-mama lain untuk dapat berjualan noken dan hasil tangan lainnya.

***

Penulis adalah jurnalis Masyarakat Adat Papua.


Leave a Reply

Your email address will not be published.