Dialog Terbuka Tentang Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender di Tanah Papua

Dialog Terbuka Tentang Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender di Tanah Papua

Oleh Selvi Sarah Apaseray

Para peserta KMAN VI yang terdiri dari perwakilan Masyarakat Adat dari seluruh Indonesia, berkumpul. Mereka juga mempresentasikan kehadiran perempuan-perempuan hebat dari berbagai sektor.

Moderator pada diskusi itu mengutarakan bahwa ia hendak mencoba mengangkat dalam sekup yang luas. Jadi, kalau tadi disampaikan bagaimana strategisnya peran perempuan dan anak, tentunya ini bisa dikatakan penting bagi kita semua.

Selain dihadiri para peserta perempuan adat, turut hadir pula perwakilan dari Pemerintah Daerah serta Kementeria Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Diskusi itu tidak hanya membahas proses-proses kehidupan keseharian sebagai perempuan, tapi juga sebagai perempuan adat. Jadi, satu hari itu kita bukan hanya mendengar, melainkan pula mencoba melihat ruang-ruang mana yang bisa kita (perempuan adat) berkolaborasi satu sama lain.

Moderator diskusi juga mengutarakan bahwa yang sudah ada dan perlu dikeluarkan atau ada ruang-ruang  yang belum tersedia, sehingga perlu kita buat itu bersama-sama. Kami dari AMAN mengajak para perempuan adat untuk bisa melakukan apa yang mereka lakukan itu karena dilakukan oleh perempuan adat. Memenuhi kebutuhan hidup, bukanlah sekedar menjalankan peran, tapi juga menjaga pengetahuan dan keberlanjutan kehidupan komunitas Masyarakat Adat.

“Yang penting, kita melakukannya secara baik…. Bagaimana bisa bersuara kami  perempuan punya kepentingan-kepentingan yang harus dibicarakan secara terbuka di tempat lain saat ini,” ujar Ibu Ratna pada dialog terbuka dalam sebuah sarasehan dalam KMAN VI.

***

Penulis adalah jurnalis Masyarakat Adat Papua.


Leave a Reply

Your email address will not be published.