Pendidikan Adat Jadi Perisai Membendung Serangan Globalisasi

Pendidikan Adat Jadi Perisai Membendung Serangan Globalisasi

Oleh Eka Egeten

Mengusung tema “Pendidikan Adat: Menemukan akar, Memastikan Masa Depan Masyarakat Adat Berdaulat, Mandiri, dan Martabat,” sarasehan pendidikan adat dalam rangka Kongres Masyarakat Adat Nusantara Keenam (KMAN VI) digelar di Kampung Hobong, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura pada Rabu (26/10/2022).

Beragam tantangan yang dihadapi para pemuda adat di Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), dikupas dalam sarasehan tersebut. Josua Wajong, salah satu penggerak Sekolah Adat Tou Mu’ung Wuaya di Tomohon, mengatakan bahwa semangat yang mendorong lahirnya sekolah adat di wilayah Sulawesi Utara, yakni kondisi generasi muda yang semakin jauh dari ingatan, tradisi, dan pengetahuan para leluhur.

“Situasi itu membuat generasi hari ini seperti kehilangan identitas, tak punya pegangan, dan kekuatan untuk menghadapi gempuran globalisasi serta investasi di wilayah adat Tomohon. Tomohon (adalah) kota kecil, sementara wilayah hutan terus hilang, diiringi kerusakan lingkungan. Atas nama investasi, pembangunan properti dan pariwisata, merusak lingkungan kian brutal,” katanya.

Ditambahkannya bahwa belajar dari para leluhur Minahasa, mereka bisa tetap menghadapi gempuran globalisasi karena tetap setia berpegang pada Nuwu’ I Tu’a (etika atau moral atau adat terkait dengan cara hidup) dan Kanaraman (patokan hidup).

“Mereka bisa bersikap tegas terhadap siapa pun serta menentukan hidup, keberlangsungan hidup, serta tanah mereka karena tetap setia dengan warisan pengetahuan leluhur sebelumnya. Di sini, muncul kesadaran betapa penting menemukan kembali, mengangkat, memperkuat, serta mewariskan nilai-nilai pengetahuan leluhur Minahasa yang menghidupkan kepada generasi hari ini dan seterusnya,” ujarnya.

Diceritakannya bahwa proses awal pendirian sekolah adat mereka memang tidak begitu sulit sebab rata-rata inisiator juga merupakan inisiator dan penggerak sekolah adat lain yang telah ada di Minahasa: Sekolah Adat Waraney Wuaya, Sekolah Adat Koha, Sekolah Adat Pawowasan Toudano, dan Sekolah Adat Kumatau.

“Komunikasi dengan sejumlah tetua dan penggerak komunitas Masyarakat Adat di Tomohon pun langsung dilakukan. Bersyukur, dukungan kuat mengalir deras walau tak sedikit tantangan yang dihadapi, terutama persoalan stigma – pelekatan negatif terhadap gerakan budaya. Tapi, kesadaran mendorong kami untuk berani dan tetap bersemangat,” tandasnya.

***

Penulis adalah jurnalis Masyarakat Adat dan penggerak Sekolah Adat Waraney Wuaya.


Leave a Reply

Your email address will not be published.