Pelaku Perjalanan Spiritual dari Banten Kidul, Tiba di Papua

Pelaku Perjalanan Spiritual dari Banten Kidul, Tiba di Papua

Oleh Apriadi Gunawan

Henriana Hatrawijaya akhirnya bisa bernapas lega. Pria yang akrab disapa Kang Noci itu tiba di Pelabuhan Jayapura, Papua setelah melakukan perjalanan spritual selama 11 hari melalui  jalur darat dan laut.

Alhamdulilah, tugas berat dan mulia sudah tertunaikan. Kita sudah sampai di Tanah Papua dengan selamat dalam durasi perjalanan 11 hari dari tanggal 9 Oktober berangkat dari komunitas Masyarakat Adat sampai 20 Oktober di Papua,” kata Kang Noci sesaat setelah ia turun dari Kapal Sinabung yang berangkat dari Surabaya.

Pria berusia 50 tahun itu mengaku bahwa perjalanan spritual yang dilakukan bersama rekannya, Algar Yuliadi, merupakan yang pertama kali terjadi dalam sejarah Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN). Menurutnya, pengalaman yang paling berkesan, – sebagai orang gunung, katanya – adalah saat berada kapal dalam waktu yang relatif lama melintasi laut-laut yang menjadi penghubung pulau-pulau besar di Indonesia Timur.

“Ombaknya besar, tapi luar biasa kita bisa melewatinya,” katanya dengan penuh semangat.

Kang Noci tidak sendirian merasakan tantangan tersebut di kapal. Ia bertemu banyak saudara Masyarakat Adat lain di kapal. Saudara yang dimaksudnya adalah sesama peserta KMAN VI dari Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Papua, dan lainnya. Mereka bertemu di kapal yang sama menuju Wilayah Adat Tabi di Papua.

“Kami bergembira dalam satu kapal,” tandasnya.

Kang Noci menjelaskan kalau perjalanan spritual lewat jalur laut itu cukup melelahkan. Ia dan rekannya menghabiskan waktu hingga tujuh hari di atas kapal. Ia memulai perjalanan spritual lewat jalur laut melalui Surabaya, Makassar, Baubau, Banggai, Bitung, Ternate, Babang, Sorong, Manokwari, Biak, dan Jayapura. Ia bersyukur bisa melihat keindahan dan keragaman Indonesia.

“Kami melewati tiga pergantian waktu: waktu Indonesia bagian barat (WIB) di Pulau Jawa, beralih ke waktu Indonesia bagian tengah (WITA) di Sulawesi, dan bergeser ke waktu Indonesia bagin timur (WIT) di Maluku dan Papua,” katanya.

Ia pun merasa senang karena sesampainya di tempat tujuan, ia dan rombongan lain disambut dengan meriah oleh Masyarakat Adat Papua.

“Sambutannya (di Papua) sangat luar biasa sekali,” katanya dengan senyum sumringah meski tampak ada lelah di wajahnya. Kang Noci menyatakan kalau setibanya di Papua, dirinya akan mengikuti semua pesan dari ketua adatnya di Banten Kidul. Ia akan menyampaikan pesan perdamaian dan persaudaran di Tanah Papua. Setelah itu, akan mengikuti semua proses pelaksanaan KMAN VI. “Semoga Kongres berjalan lancar dan tujuan KMAN VI tercapai.”

Ada 12 orang utusan dari Masyarakat Adat di Banten Kidul yang akan menghadiri KMAN VI. Sementara ia dan Algar melalui jalur darat dan laut, lainnya berangkat melalui jalur udara.

Algar Yuliadi yang turut mendampingi Kang Noci, menyatakan kalau dirinya terkesan dengan perjalanan yang dilakukannya itu. Banyak hal yang didapatnya dalam perjalanan.

“Paling berkesan di kapal. Selama tujuh hari, kita makan, tidur, ngopi, merokok, bolak-balik tanpa menginjak daratan. Lihat laut terus sampai di mana kita tidak tahu,” katanya sambil tertawa karena terbiasa tinggal di gunung. Ia mengaku sempat mengalami mabuk laut dari Surabaya ke Makassar. Itu jadi pengalaman pertamanya naik kapal dengan rute panjang. “Ombak lumayan tinggi. Kita sempat oleng. (Saya) masuk kamar dan tidur saja,” katanya.

***


Leave a Reply

Your email address will not be published.